Rabu, 21 Januari 2009

Nikmatnya Sate Kelinci Sarangan

Nikmatnya Sate Kelinci Sarangan
HAWA sejuk apalagi dingin-dingin pada malam hari akan sangat lengkap kalau disajikan makanan hangat, seperti jagung bakar dan sate bakar. Telaga Sarangan bahkan memiliki yang sangat khas, yaitu sate kelinci. Bahkan, ada pendapat, jika sedang berbicara mengenai Telaga Sarangan, akan terasa kurang komplet kalau tidak menyinggung sate yang satu ini.
Apabila ditelusur, para pedagang sate kelinci yang banyak ditemui di sekeliling Telaga Sarangan ternyata tergabung dalam sebuah organisasi, yaitu Koperasi Taruna Sate di Kelurahan Ngancar, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan.
Koperasi yang berdiri sejak sekitar 10 tahun lalu itu menampung dan memelihara kelinci piaraan penduduk dan selanjutnya menjualnya kepada para tukang sate.
Di Sarangan, hewan cantik bertelinga panjang ini banyak dijadikan bahan menu makanan, seperti kelinci goreng, kelinci guling, kelinci ungkep, dan kelinci bumbu rujak.
Warni, warga Kelurahan Ndadi, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, merupakan satu di antara sekitar 150 orang tukang sate di Sarangan. Lelaki, yang memiliki rombong (gerobak pikul sate) dengan nomor anggota 105, itu terbiasa membeli kelinci hidup berumur sekitar enam bulan seharga Rp 20.000 per ekor sebagai bahan baku satenya.
Dengan harga jual Rp 6.000 per porsi yang terdiri dari 20 tusuk, dia memperoleh keuntungan bersih Rp 10.000 untuk setiap kelinci yang disate. Dalam kondisi ramai, dia membutuhkan empat kelinci, sementara saat pengunjung Sarangan sepi hanya satu kelinci yang disembelihnya.
Bumbu sate yang dia gunakan terdiri dari bawang putih, bawang merah, jintan, ketumbar, mentega, dan jahe. Sementara itu, untuk sambal sate, Warni meramu kacang, gula, lombok, dan garam.
Lelaki yang memiliki dua putra ini setiap hari menjajakan sate di sekitar Telaga Sarangan mulai dari jam 11 hingga enam petang. Para penjaja sate tersebut ternyata memiliki aturan main sendiri. Penjaja sate yang memiliki kios tidak diperkenankan berkeliling telaga, demikian pula sebaliknya, penjaja sate keliling tidak diperkenankan menetap di satu titik lokasi ketika berjualan.
"Saya ini kejatah yang harus muter itu tadi," ujar Warni yang harus mengeluarkan uang Rp 300.000 untuk membeli rombong pikul ini.
Ke-150 tukang sate di sekitar Telaga Sarangan juga telah memiliki kapling usaha sendiri. Ada yang di dekat telaga, dekat kawasan perhotelan, sekitar air terjun, dan di dekat tempat pemberhentian bis atau kendaraan wisata pengunjung.
TELAGA Sarangan pun juga memberikan rezeki bagi para tukang kuda. Saat Sarangan penuh pengunjung, semisal di liburan sekolah atau Lebaran, ada sekitar 120 tukang kuda beroperasi di sekitar telaga.
Salah satu tukang kuda tersebut adalah Subagyo. Selain sebagai petani sayuran, warga Desa Ngluweng, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, ini juga mencari uang dengan berprofesi sampingan sebagai tukang kuda di obyek wisata Telaga Sarangan.
Subagyo menarik uang sewa sebesar Rp 10.000 bagi pengunjung yang menyewa kudanya untuk mengelilingi Telaga Sarangan yang berjarak tempuh sekitar empat kilometer ini. Dalam sehari antara empat hingga enam pengunjung Sarangan menyewa kudanya.
Dia harus mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk menjalankan profesi ini. Sebagai gambaran, pada awalnya dulu dia membeli kuda yang masih muda seharga Rp 1,5 juta per ekor. Kuda tersebut dia lengkapi dengan pakaian kuda yang harga per set kompletnya sebesar Rp 750.000.
"Setiap hari saya harus menyabit rumput untuk makan kuda ini," tutur Subagyo. Dia juga memberi dedak bagi kudanya sekitar tiga kilogram setiap hari. Di sekitar Sarangan, harga satu kilogram dedak berkisar Rp 400 hingga Rp 800.
Di saat banyak pengunjung, Subagyo terkadang membeli jamu hewan Rp 3.000 per bungkus untuk memulihkan vitalitas sang kuda tersebut.
Para tukang perahu dan becak air pun juga merupakan bagian dari warga sekitar yang memanfaatkan Telaga Sarangan sebagai tempat untuk mencari uang. Belum lagi para pedagang kaki lima yang menjajakan beragam suvenir dan makanan di sekeliling telaga tersebut.
Obyek wisata di kaki Gunung Lawu itu juga terbuka bagi para penjaja jasa foto keliling dan ragam profesi mikro lainnya. Bagi penduduk sekitar, Telaga Sarangan memang ibarat magnet yang menarik mereka untuk mencari rezeki.

0 komentar: